Kantor PMI Kota Bandung Jalan Aceh No:79 (Foto: matakota.com)
Home All News PMI Kota Bandung Ajak Penyintas COVID-19 Donor Plasma Konvalesen
All News - Regional - 4 weeks ago

PMI Kota Bandung Ajak Penyintas COVID-19 Donor Plasma Konvalesen

MATAKOTA, Bandung – Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung Ade Koesjanto, mengajak seluruh masyarakat yang pernah menjadi penyintas COVID-19 menjadi donor plasma konvalesen.

“Utamanya, penyintas yang bergejala dan cukup berat,” ucapnya, saat sesi Bandung Menjawab secara daring, Selasa, 29 Juni 2021.

Ade berujar, saat ini banyak pasien yang membutuhkan plasma konvalesen. Hingga Selasa, 29 Juni 2021, tercatat antreannya sebanyak 458 pasien.

Dijelaskan, satu orang pasien memerlukan sekitar dua labu plasma konvalesen. Dari jumlah antrean tersebut, sebanyak 261 pasien baru mendapatkan satu labu. Sedangkan 197 sisanya sama sekali belum ditransfusi plasma plasma konvalesen.

Diungkap Ade, pasien yang memerlukan plasma konvalesen untuk golongan darah A sebanyak 156 orang, golongan darah B (138 pasien), golongan darah O (132 pasien), dan golongan darah AB (32 pasien).

Menurut Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kota Bandung Uke Mutimanah, saat ini permintaan plasma konvalesen tengah mengalami peningkatan. Dari hari ke hari, kata Uke, jumlah pasien yang meminta donor terus bertambah hingga menyentuh angka 30-an orang.

Uke berujar, PMI Kota Bandung tidak memiliki stok ketersediaan plasma konvalesen.

“Sehingga wajar, saat kasus COVID-19 tengah mengalami peningkatan, maka daftar antrean plasma konvalesen kian bertambah,” ucapnya.

“Jadi kalau hari ini dapat donor, lalu diproses kemudian dapat sejumlah labu maka langsung dibagikan. Hari ini kita ada jadwal donor 20 orang,” imbuh Uke.

Dipaparkan, bagi masyarakat yang memerlukan plasma konvalesen, harus membawa calon donor pengganti. Minimal, satu orang donor untuk mengganti dua labu plasma konvalesen.

“Untuk yang perlu, silahkan kontak atau datang ke PMI Kota Bandung. Kalau minta 2 labu memang bisa satu orang (donor pengganti). Tapi kalau kebetulan di keluarga ada banyak yang bisa, kita anjurkan semuanya donor,” katanya.

PMI Kota Bandung Ajak Penyintas Bergejala Berat Donor Plasma Konvalesen (foto: matakota.com)
PMI Kota Bandung Ajak Penyintas Bergejala Berat Donor Plasma Konvalesen (foto: matakota.com)

“Kalaupun donor pengganti berbeda golongan, kita tetap terima. Karena nanti kita yang salurkan sesuai mereka yang membutuhkan,” tambah Uke.

Menurutnya, untuk kriteria donor plasma konvalesen, syarat pertama yakni penyintas yang berusia antara 17 hingga 60 tahun. Khusus bagi donor wanita disarankan yang tidak pernah hamil.

Selain dari sisi medis yang tidak memiliki penyakit penyerta, lanjut Uke, syarat utama yaitu sudah dinyatakan sembuh atau menunjukan hasil negatif berdasarkan keterangan pemeriksaan PCR ataupun pernyataan dokter.

‘Sekurang-kurangnya donor bisa dilakukan empat hari setelah pernyataan negatif tersebut,” terang Uke.

“Bawa KTP. Jika telah memenuhi syarat lalu melalui pemeriksaan medis oleh dokter, kemudian diambil sampel terlebih dahulu. Setelah memenuhi syarat berdasarkan syarat donor akan diberitahu melalui telepon untuk penjadwalan donor plasma konvalesen,” tambahnya.

Dijelaskan Uke, orang yang diperlukan adalah penyintas yang memiliki gejala dan cukup berat. Karena ketika berhasil sembuh, memiliki level antibodi lebih bagus ketimbang penyintas tanpa gejala.

Mengingat donor yang diambil berupa plasma, khusus donor konvalesen ini bisa dilakukan per dua minggu. Jika di rentang waktu tersebut pendonor plasma konvalesen kembali terkonfirmasi positif, maka ditunggu lagi sampai kembali pulih dan dinyatakan negatif.

“Kalau penyintas sudah donor, biasanya kita diambil lagi dua minggu kemudian. Kalau tiba-tiba COVID-19 lagi, kita tidak bisa ambil. Tapi kalau sudah sembuh dan ditunggu 14 hari kemudian, maka bisa diambil lagi. Justru secara teoritis antibodinya lebih bagus,” ucapnya.

Kata Uke, saat ini kapasitas donor plasma konvalesen di PMI Kota Bandung bisa dilakukan sebanyak 20-25 orang per hari. Peningkatan kapasitas donor ini didukung dengan hadirnya 6 unit alat aferesis baru.

“Setiap donor bisa diambil 400-600 cc dan diproduksi jadi 200 cc per labu. Itu kalau memakai mesin dan dengan berat badan di atas 55 atau 60 kilogram. Tapi kalau berat badannya 47 kilogram atau malah kurang, kita ambil manual. Itu paling hanya bisa untuk satu labu,” tutup Uke. (DRY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Langka di Pasaran, Ridwan Kamil Imbau Warga Jangan Stok Tabung Oksigen

MATAKOTA, Bandung – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengimbau masyarakat ya…