3588626400
Home All News Korupsi Bansos Warga Miskin KBB, Ini Pengakuan Aa Umbara
All News - Hukum - 2021-10-19

Korupsi Bansos Warga Miskin KBB, Ini Pengakuan Aa Umbara

MATAKOTA, Bandung – Sidang lanjutan perkara korupsi bantuan sosial (Bansos) warga miskin Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali digelar di PN Tipikor Bandung Jalan LL RE Martadinata, Senin, 18 Oktober 2021.

Sidang kali ini beragendakan mendengarkan saksi mahkota yakni keterangan terdakwa sebagai saksi untuk terdakwa lainnya.

Ketiga terdakwa antara lain Aa Umbara Sutisna, Andri Wibawa (Anak kandung Aa Umbara), dan M. Totoh Gunawan. Mereka disidangkan secara virtual dari Rutan Kebon Waru.

Di persidangan tersebut, M Totoh Gunawan mengaku fee enam persen untuk Bupati Bandung Barat nonaktif Aa Umbara hanya akal-akalan dirinya. Fee tersebut, kata dia, dimasukkan demi keuntungan dirinya sendiri.

Soal fee enam persen ini mulanya terungkap dalam dakwaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam dakwaan disebutkan bahwa Aa Umbara meminta fee enam persen untuk keuntungan pribadinya.

Hal ini pun kemudian diperiksa di persidangan. Jaksa KPK Feby Dwiyandospendy awalnya menanyakan soal fee enam persen dari total proyek bansos tersebut.

“Fee enam persen itu komitmen saya sendiri yang buat,” ucap Totoh.

Menurut dia, fee 6 persen ini tidak pernah diberikan kepada Aa Umbara. Sebaliknya, fee tersebut justru dia masukkan ke kantong pribadinya.

“Uang itu benar untuk kepentingan saya pribadi,” katanya.

Menurut Aa Umbara, ia mengenal Totoh sejak kecil. Persahabatannya awet hingga sekarang.

“Jadi Totoh itu bagian dari tim sukses Anda?” tanya jaksa.

“Bukan. Bukan tim sukses resmi. Karena Pak Totoh tidak tercatat sebagai bagian tim sukses secara tertulis,” jawab Aa Umbara.

Aa Umbara juga ditanya mengenai Totoh yang jadi penggarap proyek pengadaan barang tersebut. Aa menegaskan bila perusahaan Totoh bukanlah hasil penunjukkan langsung dirinya. Aa Umbara menyebut hanya merekomendasikan perusahaan Totoh.

“Saat itu hanya referensi saja. saya bilang (ke Kadinsos) ini ada pengusaha sembako, keluarganya juga penyedia sembako. Agar lebih cepat penyaluran ke masyarakat tapi kalau Pak Kadis ada yang lebih baik, silahkan. Karena masyarakat menunggu bantuan,” ucap Aa Umbara menirukan ucapannya saat itu.

Diketahui, Aa Umbara dikenakan pasal berlapis, korupsi dan gratifikasi. Dia terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara dan minimal 4 tahun serta denda minimal Rp 200 juta maksimal Rp 1 miliar.

Dalam dakwaan jaksa, selain dugaan korupsi pada proyek bansos rakyat miskin di KBB, Aa Umbara juga diduga menerima uang terkait mutasi, promosi dan mempertahankan jabatan struktural di Pemerintahan KBB dengan total sebesar Rp 463.500.000,00.

Dalam dakwaan yang dibacakan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terungkap Aa Umbara telah menunjuk langsung salah satu anaknya, Andri Wibawa, untuk jadi rekanan penyedia paket.

Dalam menjalankan modusnya, Andri dibantu oleh Diane Yuliandari dan Dicky Yuswandira untuk menyediakan perusahaan yang akan dijadikan bendera sebagai peserta tender.

Dibeberkan jaksa, Diane Yuliandari adalah istri siri dari Aa Umbara. Sementara, Dicky Yuswandira adalah adik dari Diane.

Disaat masyarakat miskin terdampak COVID-19 di KBB terancam kelaparan, Diane dan Dicky malah mendapatkan keuntungan dari Andri Wibawa sebesar Rp188 juta. Sedangkan Andri selaku putra kandung Aa Umbara, mendapatkan keuntungan dari 120.675 paket sembako, sebesar Rp 2,6 miliar. (DRY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

DPRD Kota Bandung Minta BPBD Diatur Perda

MATAKOTA, Bandung — Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan Bah…