Home Pemerintahan Bandung Zoo Bersolek, Pemkot Kejar Revitalisasi dan Pembukaan Kembali Sebelum Setahun
Pemerintahan - 2026-06-13

Bandung Zoo Bersolek, Pemkot Kejar Revitalisasi dan Pembukaan Kembali Sebelum Setahun

MATAKOTA || BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung terus mempercepat proses revitalisasi Bandung Zoo sebagai salah satu ikon wisata dan edukasi Kota Bandung. Setelah pengelola baru ditetapkan, tahapan finalisasi konsep dan negosiasi Perjanjian Kerja Sama (PKS) kini tengah berlangsung.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pihaknya berharap proses penandatanganan kerja sama dapat segera rampung sehingga revitalisasi dapat langsung berjalan sesuai target.

“Saat ini kami sedang menunggu penyelesaian konsep dan negosiasi PKS. Mudah-mudahan segera terlaksana dan pembayaran tahap pertama dari pengelola bisa segera diterima,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Jumat (12/6/2026).

Menurut Farhan, skema kerja sama yang sedang dibahas mencakup pembagian hasil, masa tenggang (grace period), hingga berbagai kewajiban perizinan yang harus dipenuhi oleh pengelola baru.

Ia menjelaskan, sejumlah izin strategis seperti izin konservasi baru dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) diperkirakan membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk diselesaikan. Selain itu, dokumen administrasi lain seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) juga harus dipenuhi sebelum operasional penuh dapat dilakukan.

“Saya dijadwalkan menghadap Menteri Kehutanan untuk membahas nota kesepakatan bersama karena proses perizinannya cukup panjang,” katanya.

Farhan menegaskan, revitalisasi Bandung Zoo tidak boleh hanya berorientasi pada bisnis semata. Kebun binatang yang dikenal masyarakat sebagai Derenten itu harus tetap mengedepankan fungsi edukasi, terutama bagi anak-anak.

Ia juga menitipkan tiga pesan penting kepada pengelola baru. Pertama, mempertahankan tenaga kerja lama agar keberlangsungan operasional dan pengalaman pengelolaan tetap terjaga. Kedua, menjaga nilai sejarah dan budaya yang telah menjadi identitas Bandung Zoo selama bertahun-tahun.

“Bandung Zoo memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat. Karakter khas itu harus tetap dipertahankan,” tegasnya.

Ketiga, Farhan mendorong penguatan fungsi konservasi melalui program pelepasliaran satwa ke habitat aslinya. Beberapa spesies seperti owa dan surili dinilai memiliki potensi untuk dikembalikan ke kawasan hutan di wilayah Bandung Selatan, termasuk Pangalengan dan Gambung.

Terkait harga tiket masuk, Farhan memastikan pemerintah akan mengawal agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Menurutnya, meskipun pengelola baru memiliki perhitungan bisnis yang matang, aspek aksesibilitas publik tetap harus menjadi perhatian utama.

“Kalau nanti harga tiket dinilai tidak wajar, tentu akan kami perjuangkan. Banyak masyarakat berharap Bandung Zoo tetap bisa dinikmati oleh semua kalangan,” ujarnya.

Farhan menjelaskan, model pengelolaan Bandung Zoo berbeda dengan sejumlah kebun binatang milik pemerintah daerah lainnya, seperti Ragunan di Jakarta. Di Bandung, pengelolaan dilakukan melalui skema kerja sama pemanfaatan karena tidak berada di bawah dinas khusus.

Meski masih harus melalui sejumlah tahapan administrasi dan teknis, Pemkot Bandung optimistis revitalisasi dapat berjalan sesuai rencana dan Bandung Zoo kembali dibuka untuk masyarakat dalam waktu kurang dari satu tahun.

Selain proses perizinan, pengalihan sejumlah aset hasil sitaan yang sebelumnya berada di bawah kewenangan Kejaksaan Tinggi juga menjadi bagian dari tahapan yang harus diselesaikan.

Dengan revitalisasi ini, Bandung Zoo diharapkan hadir dengan wajah baru yang lebih modern, edukatif, dan berorientasi pada konservasi tanpa meninggalkan nilai sejarah yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Bandung.

Check Also

bank bjb dan OJK Jawa Barat Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan bagi Penyandang Disabilitas melalui Program DIA KITA

MATAKOTA || BANDUNG –  bank bjb bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat t…