Home All News Persaingan APDESI Kabupaten Bandung, Duel Burung Pipit Melawan Sang Elang Beda Warna di Langit yang Sama
All News - Berita - Pemerintahan - Public - 2026-10-26

Persaingan APDESI Kabupaten Bandung, Duel Burung Pipit Melawan Sang Elang Beda Warna di Langit yang Sama

MATAKOTA II Bandung – Persaingan menuju kursi Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Bandung mulai menarik perhatian.

Ismawanto Somantri, S.H., S.IP., Kepala Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, hadir dengan pengalaman dua periode memimpin desa dan keinginan agar pemilihan berlangsung demokratis.

Ia menghendaki kontestasi terbuka, bukan berakhir melalui aklamasi. Baginya, menang atau kalah merupakan konsekuensi wajar dalam pemilihan. Sikap tersebut memperlihatkan pandangannya tentang pentingnya proses dalam menentukan pemimpin organisasi.

Berangkat dari latar belakang sederhana, Ismawanto dapat diibaratkan burung pipit yang berani terbang tinggi. Ia memiliki bekal pendidikan hukum dan pemerintahan, serta sedang menempuh pendidikan S2 Magister Hukum di Program Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung.

Persaingan ini tidak hanya menghadirkan kepala desa dari Pasirjambu. H. Galih Hendrawan, S.IP., M.M., Kepala Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, juga memiliki pengalaman memimpin pemerintahan desa dan menjadi sosok lain dalam kontestasi tersebut.

Galih telah menjalani satu periode sebagai kepala desa, sementara Ismawanto sudah dua periode memimpin Desa Tenjolaya. Perbedaan masa pengabdian itu menjadi bagian dari profil keduanya, tetapi belum cukup untuk menentukan siapa yang paling tepat memimpin organisasi.

Foto dokumentasi Ismawanto Somantri, Kepala Desa Tenjolaya, bersama para kepala desa se-Kecamatan Pasirjambu.

Di Langit yang Sama untuk Terbang.

Jika Ismawanto diibaratkan burung pipit, Galih menjadi sang elang dalam metafora persaingan ini. Keduanya datang dengan latar berbeda, tetapi sama-sama berada dalam perebutan kepercayaan para kepala desa di Kabupaten Bandung.

APDESI menjadi wadah bagi kepala desa untuk membicarakan persoalan bersama, menghimpun aspirasi, dan membangun komunikasi mengenai kebutuhan pemerintahan desa. Peran organisasi inilah yang membuat pemilihan ketua lebih dari sekadar pergantian jabatan.

Ketua organisasi dituntut mampu menjaga komunikasi antaranggotanya dan membawa persoalan bersama ke ruang pembahasan. Bagi desa, manfaatnya bergantung pada sejauh mana aspirasi dapat dihimpun dan disampaikan melalui jalur yang tepat.

Karena itu, pengalaman memimpin desa dan gagasan mengenai arah organisasi menjadi bagian penting dari persaingan ini. Keduanya dapat memberi gambaran kepada anggota tentang cara masing-masing calon memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi desa.

Muscab APDESI Kabupaten Bandung direncanakan berlangsung pada 6 November 2027. Dalam forum tersebut, para kepala desa akan menentukan kepemimpinan organisasi untuk periode berikutnya melalui mekanisme yang berlaku.

Burung pipit dan sang elang boleh berbeda warna, tetapi keduanya terbang di langit yang sama. Siapa pun yang mendapat kepercayaan, kepemimpinan APDESI akan diuji melalui kerja nyata dan manfaatnya bagi para anggota.* Uus MataKota.

Check Also

Hari Santri dan MTQ ke-48 Kabupaten Bandung, Merawat Tradisi Ilmu dan Al-Quran

MATAKOTA II Bandung – Pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan keagamaan, pembent…