Pansus LKPJ DPRD Kota Bandung, Rizal: Pendapatan dan Layanan Publik Jadi Sorotan
Tagih Bukti Nyata, Bukan Cuma Data di Atas Kertas
MATAKOTA || Bandung, – Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota Bandung Tahun Anggaran 2025 menjadi perhatian serius Panitia Khusus (Pansus) 15 DPRD Bandung. Pansus yang diberi tugas membahas LKPJ Walikota ini, memulai langkah awal kinerjanya dengan menyoroti pendapatan serta dampaknya terhadap layanan publik.
Rapat kerja pembahasan LKPJ digelar dengan menghadirkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Bandung, pada Rabu, 15 April 2026. Pertemuan ini dipimpin langsung Ketua Pansus ko15, Rizal Khairul bersama sejumlah anggota pansus dewan lainnya.
Fokus utama rapat hari ini adalah menilai sejauh mana realisasi pendapatan tahun 2025 dan memberikan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Pansus LKPJ menilai capaian kinerja tidak cukup hanya dilihat dari laporan administratif, tetapi juga melihat sumber pendapatan itu sendiri,” kata Ketua Pansus 15 DPRD Kota Bandung, yang membahas LKPJ walikota Bandung tahun 2025, Rizal Khairul, di Gedung DPRD Kota Bandung, Kamis 16 April 2026.
Politisi Partai Golkar ini, menyampaikan bahwa dokumen LKPJ yang disampaikan Walikota Bandung bersifat makro, sehingga lanjutnya pansus perlu menilai kinerja pemerintah kota dengan menekankan pentingnya menguji capaian dengan kondisi riil di lapangan.
“Secara angka pendapatan ini patut diapresiasi. Namun demikian, keberhasilan tersebut harus benar-benar terus dikoreksi, terutama masih rentannya pendapatan pajak yang lari keluar daerah padahal pekerjaannya ada dikita,” ujar Rizal.

Ia memaparkan sejumlah indikator positif, seperti pertumbuhan pembangunan dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Selain itu, angka pengangguran juga dilaporkan mengalami penurunan.
“Data ini menunjukkan arah pembangunan yang cukup baik secara statistik. Namun, Pansus tetap perlu memastikan bahwa manfaatnya dirasakan secara merata oleh masyarakat,” katanya.
Selain pendapatan, Pansus juga menyoroti kualitas belanja daerah yang dinilai perlu dievaluasi. Realisasi anggaran dinilai belum tentu mencerminkan efektivitas program jika belum menyelesaikan persoalan dasar.
Rizal menegaskan bahwa peningkatan pendapatan harus diiringi dengan perbaikan nyata di sektor pelayanan publik. Ia menyoroti masih adanya persoalan klasik seperti kemacetan, layanan kesehatan dan masalah sampah yang belum menunjukkan hasil sesuai yang diharapkan.
“Peningkatan pendapatan seharusnya berdampak langsung pada kualitas infrastruktur dan layanan publik. Jika masalah klasik masih terjadi, maka program prioritas perlu dievaluasi secara serius,” tegasnya.
Atas dasar itu pula terhadap program kerja Rizal menegaskan bahwa evaluasi kinerja perangkat daerah tidak boleh terjebak pada formalitas laporan administratif semata. Maka Pansus mendorong adanya perhatian khusus terhadap seluruh program kerja guna memastikan akuntabilitas dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Untuk itu, pihaknya melakukan pendalaman materi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara menyeluruh.
Ini penting dilakukan untuk membedah realitas di balik data capaian. Laporan yang disampaikan pemerintah kota cenderung hanya menonjolkan narasi keberhasilan tanpa mengevaluasi program yang tak sesuai target.
“Pendalaman ini sangat penting karena kalau kita hanya mencermati LKPJ yang disampaikan, tentunya cenderung menonjolkan narasi keberhasilan. Namun belum secara memadai menyajikan evaluasi terhadap program yang tidak mencapai target,” ujar Rizal.
Dalam pandangan Rizal penyampaian laporan pertanggungjawaban seharusnya tidak hanya berfokus pada capaian positif semata. Melainkan kejujuran terhadap kegagalan program justru menjadi fondasi penting untuk melakukan perbaikan kebijakan di masa mendatang melalui Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
“Penyampaian LKPJ seharusnya tidak hanya berfokus pada capaian saja, tapi ya tidak ada salahnya juga mencantumkan terhadap kelemahan sebagai dasar perbaikan kebijakan di kemudian hari,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi lV DPRD Kota Bandung ini.
Dalam rapat kerja Pansus secara maraton membedah kinerja organisasi perangkat daerah Evaluasi difokuskan pada aspek capaian program dan pendapatan serta penyelesaian masalah sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi).
Lebih lanjut, Rizal menekankan bahwa pembangunan yang akuntabel bukan hanya ditunjukkan melalui angka-angka di atas kertas, melainkan melalui capaian nyata.
“Jadi ketika bicara apa yang sudah dikerjakan, kami menilainya dengan indikator kinerja, dan seberapa banyak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat atas capaian program tersebut,” pungkas Rizal. **
Aksi Mahasiswa di UPI Bandung, Aktivis Anak Bangsa Desak Investigasi Dugaan Penyalahgunaan Wewenang Rektor
MATAKOTA || Bandung, – Aktivis Anak Bangsa menggelar aksi unjuk rasa di lingkungan Univers…









