IKA UPI Soroti Risiko Pembelajaran Online Akibat Krisis Energi: Ancaman Nyata bagi Kualitas Pendidikan
MATAKOTA || Bandung, — Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) menyampaikan kritik terhadap wacana pemerintah yang akan mendorong pembelajaran daring sebagai bagian dari strategi penghematan energi di tengah krisis energi global.
Kebijakan tersebut sebelumnya disampaikan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, yang menyebutkan bahwa penyesuaian metode pembelajaran daring dan luring menjadi salah satu langkah efisiensi energi.
Namun, IKA UPI menilai langkah tersebut berpotensi menurunkan kualitas pendidikan secara signifikan. Pengalihan pembelajaran tatap muka (PTM) ke sistem daring dinilai tidak sepenuhnya efektif dalam mendorong pemahaman materi serta keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar.
Ketua Umum PP IKA UPI, Amich Alhumami, menegaskan bahwa pengalaman selama pandemi COVID-19 telah menunjukkan dampak nyata dari pembelajaran daring. Menurutnya, sistem tersebut tidak mampu menggantikan peran sekolah sebagai ruang interaksi sosial dan pembentukan karakter.
“Terjadi learning loss yang sangat signifikan. Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, disiplin, dan etika yang tidak bisa digantikan oleh pembelajaran berbasis layar,” ujarnya.
IKA UPI mengidentifikasi tiga risiko utama dari kebijakan ini. Pertama, dampak terhadap kesehatan mental siswa, termasuk potensi meningkatnya stres, kesepian, hingga digital fatigue akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan.
Kedua, ketimpangan akses pendidikan. Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki infrastruktur digital yang memadai. Penerapan pembelajaran daring dinilai akan memperlebar kesenjangan antara daerah perkotaan dan wilayah terpencil, termasuk daerah 3T.
Ketiga, kesalahan logika efisiensi. IKA UPI menilai penghematan energi tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan sektor pendidikan.
Berdasarkan berbagai studi internasional, learning loss dapat berdampak jangka panjang terhadap produktivitas dan pendapatan individu di masa depan.
Sebagai solusi, IKA UPI menawarkan konsep “Pedagogi Hijau” melalui Gerakan Sekolah Mandiri Energi. Program ini mendorong pendekatan hemat energi tanpa meninggalkan pembelajaran tatap muka, seperti penggunaan transportasi ramah lingkungan oleh siswa dan tenaga pendidik.
“Jika tujuannya menghemat energi, solusinya bukan memindahkan pembelajaran ke daring, tetapi membangun kebiasaan hidup hemat energi yang sehat dan berkelanjutan,” tambah Amich.
IKA UPI menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan pendidikan nasional agar tetap berpihak pada kualitas pembelajaran dan masa depan generasi Indonesia.
Pansus LKPJ DPRD Kota Bandung Soroti Lemahnya Penegakan Perda
MATAKOTA || Bandung, – Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ…







