Home Berita Tantan Sulthon Bukhawan: Platform Boleh Berubah, Integritas Wartawan Jangan
Berita - 2026-08-04

Tantan Sulthon Bukhawan: Platform Boleh Berubah, Integritas Wartawan Jangan

MATAKOTA ||✓BANDUNG – Perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh wajah industri media. Informasi kini mengalir tanpa batas melalui berbagai platform digital. Namun, di tengah perubahan tersebut, Sekretaris PWI Jawa Barat, Tantan Sulthon Bukhawan, mengingatkan bahwa ada satu hal yang tidak boleh ikut berubah: integritas seorang wartawan.

Bagi Tantan, kemajuan teknologi merupakan keniscayaan yang harus diikuti. Akan tetapi, kecepatan menyampaikan informasi tidak boleh mengorbankan akurasi, independensi, dan tanggung jawab jurnalistik.

“Platform boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi integritas wartawan tidak boleh ikut berubah,” tegasnya.

Pandangan itu bukan sekadar slogan. Lebih dari dua dekade mengabdikan diri di dunia jurnalistik telah membentuk keyakinannya bahwa kepercayaan publik merupakan modal terbesar yang dimiliki seorang wartawan.

Perjalanan kariernya dimulai pada 2002 ketika bergabung sebagai wartawan Harian Umum Mitra Dialog yang berada di bawah naungan Pikiran Rakyat Grup. Tiga tahun kemudian ia melanjutkan kiprah di Harian Seputar Indonesia (SINDO), sebelum kemudian bergabung dengan InilahKoran hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Pemimpin Redaksi.

Berbagai pengalaman di ruang redaksi memberinya pemahaman bahwa menjadi wartawan tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis. Seorang jurnalis juga dituntut mampu mendengar, melakukan verifikasi, memahami persoalan secara utuh, lalu menyajikannya kepada publik secara objektif dan bertanggung jawab.

“Berita yang baik bukan yang paling cepat, tetapi yang paling dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Bagi Tantan, profesi wartawan adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat. Keinginannya menekuni dunia jurnalistik berangkat dari rasa ingin tahu yang besar terhadap kehidupan manusia serta keinginan untuk terus belajar dari setiap peristiwa.

“Saya memilih menjadi wartawan karena ingin mengenal banyak orang. Dari setiap orang selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Melalui profesi ini, saya ingin menjadi bagian dari agen perubahan untuk kepentingan publik,” tuturnya.

Berangkat dari Pangalengan

Lahir dan besar di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Tantan tumbuh dalam lingkungan masyarakat pegunungan yang sederhana. Pengalaman masa kecil itu membentuk karakter, kepekaan sosial, dan cara pandangnya terhadap kehidupan.

Pendidikan formal ditempuh di SDN Citere, SMPN 2 Kertasari, MA Baitul Arqom Bandung, hingga meraih gelar sarjana pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Semangat belajarnya tidak berhenti setelah memasuki dunia kerja. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister pada program studi yang sama di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan berhasil menyelesaikannya dengan IPK 3,87.

Baginya, pendidikan bukan sekadar memperoleh gelar akademik, melainkan proses pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat.

“Kalau berhenti belajar, kita akan tertinggal oleh perubahan. Wartawan justru harus menjadi orang yang paling cepat belajar,” katanya.

Cara berpikirnya juga diperkaya oleh berbagai bacaan dari tokoh-tokoh seperti Tan Malaka melalui buku Madilog, karya-karya Buya Hamka, hingga tulisan Elon Green yang memperluas perspektifnya mengenai logika, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Organisasi sebagai Ruang Bertumbuh

Selain berkiprah di media massa, Tantan memiliki pengalaman sebagai Tenaga Ahli Humas DPRD Kabupaten Cirebon, konsultan media, serta terlibat dalam penyelenggaraan PON XIX dan Peparnas XV Jawa Barat.

Pengalaman organisasinya telah dimulai sejak masa mahasiswa melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Soreang dan Keluarga Mahasiswa Bandung (Kembang). Dari sana, ia belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memimpin dari depan, melainkan menghadirkan ruang agar setiap orang dapat berkembang.

Prinsip tersebut kini ia bawa dalam perannya sebagai Sekretaris PWI Jawa Barat. Menurutnya, organisasi profesi harus menjadi tempat meningkatkan kompetensi, memperkuat perlindungan profesi, sekaligus memperjuangkan kesejahteraan wartawan.

“Organisasi harus menjadi tempat orang bertumbuh, bukan sekadar tempat berkumpul,” ujarnya.

Menjaga Kepercayaan Publik

Di tengah perubahan lanskap media yang berlangsung sangat cepat, Tantan meyakini bahwa wartawan tetap memegang peran strategis sebagai penjaga fakta dan kepercayaan publik.

Baginya, tugas seorang jurnalis tidak berhenti ketika sebuah berita dipublikasikan. Di balik setiap karya jurnalistik terdapat tanggung jawab moral untuk menghadirkan informasi yang benar, berimbang, serta bermanfaat bagi masyarakat.

Prinsip hidup yang selalu dipegangnya pun sederhana.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Tantan memandang bahwa menulis bukan sekadar menyusun rangkaian kata menjadi berita. Lebih dari itu, menulis adalah menjaga amanah publik, merawat kepercayaan masyarakat, serta memastikan setiap informasi yang disampaikan tetap berpijak pada nilai-nilai kebenaran, integritas, dan kemanusiaan.

Check Also

Program Berbagi Daging BAZNAS Jabar Jangkau Pelosok Purwakarta, Warga Rasakan Manfaat Zakat Digital

MATAKOTA|| Purwakarta – BAZNAS Provinsi Jawa Barat kembali menyalurkan manfaat zakat kepad…