Home All News Atraksi Ekstrem Debus Hibur Warga Ciwidey, dari Potong Lidah hingga Makan Beling
All News - Regional - 2026-03-29

Atraksi Ekstrem Debus Hibur Warga Ciwidey, dari Potong Lidah hingga Makan Beling

MATAKOTA || Bandung – Atraksi debus mulai dari potong lidah hingga memakan pecahan gelas menghibur warga dalam sebuah hajatan di Kampung Pasirmala, Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (29/3/2026). Warga memadati arena pertunjukan untuk menyaksikan langsung aksi para pemain debus.

Sejak pertunjukan dimulai, masyarakat dari berbagai kampung berdatangan dan berkumpul di sekitar lokasi acara. Anak-anak hingga orang tua berdiri mengelilingi arena untuk menyaksikan setiap aksi yang diperagakan para pemain.

Para pemain menampilkan berbagai atraksi ekstrem yang menjadi ciri khas debus. Mereka memperagakan potong lidah, tubuh dibor menggunakan alat, menusukkan jarum ke bagian tubuh, hingga memakan pecahan gelas di hadapan penonton.

Saat salah seorang pemain memakan pecahan gelas, sorak penonton terdengar dari berbagai sisi arena. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan yang telah lama dikenal dalam tradisi seni debus.

Ketua Yayasan Pusaka Jawara Pajajaran, Iyan Suprian yang akrab disapa Kiwaja, mengatakan kelompok seni yang dipimpinnya berdiri sejak empat tahun lalu dan hingga kini masih aktif tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Kiwaja memperagakan atraksi potong lidah dalam pertunjukan debus di Kampung Pasirmala, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (29/3/2026).

“Yayasan Pusaka Jawara Pajajaran berdiri empat tahun lalu. Kami ingin seni debus tetap hidup dan dikenal masyarakat,” kata Iyan Suprian.

Ia menjelaskan rombongan debus pada hari yang sama menjalani tiga agenda pertunjukan di wilayah Kabupaten Bandung.

“Kami tampil di tiga tempat. Pertama di Kampung Pangauban, Desa Sukawening, Kecamatan Ciwidey, kemudian di Kampung Pasirmala, Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey,” ujarnya.

“Setelah dari sini kami melanjutkan penampilan di Kampung Pasir Awi, Kecamatan Pasirjambu,” lanjutnya.

Menurut Iyan, kelompoknya juga pernah tampil dalam sejumlah kegiatan resmi, termasuk peringatan hari jadi Polsek hingga acara perayaan ulang tahun Kapolri.

Salah satu anggota rombongan debus, Deden, mengatakan Yayasan Pusaka Jawara Pajajaran memiliki 25 personel yang terlibat dalam berbagai kegiatan pertunjukan.

“Total anggota kami 25 orang. Dalam setiap kegiatan ada yang menjadi pemain atraksi, pengiring musik, serta tim pendukung,” ujar Deden.

Salah seorang pemain debus, Nana yang dikenal dengan panggilan Ahok, datang dari Kecamatan Katapang bersama dua rekannya untuk bergabung dalam pertunjukan tersebut.

“Kami dari Katapang bertiga ikut tampil. Kami ingin menghidupkan kembali seni budaya Sunda agar tetap dikenal masyarakat,” kata Nana.

Ia menilai kegiatan seni budaya juga dapat memperkuat kebersamaan masyarakat. “Orang Sunda harus bersatu dalam berbagai kegiatan, terutama dalam menjaga seni dan budaya daerah,” ujarnya.

Seorang warga setempat, Imoh, mengatakan pertunjukan debus tersebut digelar dalam rangka hajatan sunatan anak dari keluarga Bapak Akbar di RW 17 Kampung Pasirmala, Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey.

Ia mengaku datang bersama keluarga dan tetangganya untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

“Seni budaya seperti ini bagus. Saya, keluarga, dan tetangga sangat terhibur melihat pertunjukan debus ini,” kata Imoh.

Pertunjukan debus dalam hajatan warga tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih hidup di tengah masyarakat dan tetap menjadi hiburan yang dinantikan warga. (Uus)

Check Also

Aksi Mahasiswa di UPI Bandung, Aktivis Anak Bangsa Desak Investigasi Dugaan Penyalahgunaan Wewenang Rektor

MATAKOTA || Bandung, – Aktivis Anak Bangsa menggelar aksi unjuk rasa di lingkungan Univers…