Home Berita USB YPKP Gandeng PTPN I Siapkan Talenta untuk Industri Hijau
Berita - 2026-09-30

USB YPKP Gandeng PTPN I Siapkan Talenta untuk Industri Hijau

 

MATAKOTA|| BANDUNG — Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung memperkuat komitmennya membangun ekosistem green campus sekaligus menyiapkan lulusan yang mampu menjawab kebutuhan industri berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kuliah umum bertema “Dari Green Campus ke Green Industry: Menyiapkan Talenta Inovatif dan Berkelanjutan” yang digelar di Gedung Serbaguna USB YPKP Bandung, Selasa (29/9/2026).

Kuliah umum menghadirkan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I, Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU., ASEAN Eng., sebagai narasumber utama.

Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik dan industri untuk membahas kebutuhan sumber daya manusia di tengah percepatan transformasi menuju industri hijau.

Abdul Rivai Ras mengatakan, kegiatan itu merupakan bagian dari kontribusi PTPN I dalam membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan konsep green campus yang nantinya dapat menjadi fondasi bagi mahasiswa memasuki dunia industri.

“Bagaimana membuka ruang kerja sama, khususnya dalam mendorong terbangunnya kampus hijau, yang kemudian nanti bisa disalurkan pada saatnya mahasiswa yang sudah selesai kuliah dan menjadi sarjana bisa mengembangkan aspek industri hijau. Karena itu berangkatnya dari kampus,” ujar Abdul Rivai.

Menurut dia, tuntutan pencapaian Net Zero Emission serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) telah mendorong perubahan besar di sektor industri. Perusahaan dituntut semakin efisien dalam penggunaan sumber daya, menekan emisi, sekaligus mengelola limbah secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi dinilai memiliki posisi penting sebagai tempat pembentukan pola pikir, karakter, sekaligus kompetensi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.

Namun, tantangan yang masih dihadapi adalah adanya kesenjangan antara pembelajaran teoritis di kampus dengan kebutuhan riil industri.

Green Campus Jadi Fondasi

Rektor USB YPKP Bandung, Prof. Diana Sari, mengatakan green campus merupakan salah satu program unggulan yang terus dikembangkan universitas.

Sejumlah program telah dijalankan, antara lain penanaman lebih dari 1.000 pohon, program Green Action, hingga rencana penanaman 1.000 pohon tambahan di kawasan Bandung Utara yang mengalami penggundulan.

“Kami seperti gayung bersambut. Kami sudah memiliki program dan ternyata PTPN I pun juga concern terhadap climate change dan isu lingkungan,” kata Diana.

Menurutnya, pengembangan kampus hijau tidak hanya berkaitan dengan penghijauan secara fisik. USB YPKP juga mendorong efisiensi energi, pengelolaan air dan listrik, serta pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan lingkungan kampus.

USB YPKP, kata Diana, juga telah terpilih sebagai salah satu dari lima universitas di Jawa Barat dalam program KKN pengelolaan sampah di Kota Bandung.

Selain itu, kampus mengembangkan produk panel surya yang dibuat oleh dosen internal, meskipun pemanfaatannya masih dalam skala terbatas.

“Kami biasakan untuk bagaimana kita save energy di sini, pengelolaan air, pengelolaan listrik di kampus, tetapi bukan hanya itu, tetapi juga bagaimana menggunakan teknologi dalam pengelolaan energy saving,” ujarnya.

Industri Hijau Butuh Banyak Keahlian

Abdul Rivai menegaskan, transformasi menuju industri hijau membuka peluang karier yang luas bagi mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan.

Kebutuhan tersebut tidak hanya berada pada bidang teknis. Industri juga membutuhkan talenta dari bidang teknologi informasi, akuntansi, keuangan, manajemen hingga komunikasi.

“Kita juga butuh keilmuan-keilmuan bukan dari sisi yang bersifat teknis, tetapi yang berhubungan dengan keahlian sosial juga kita butuhkan,” katanya.

Hal itu, lanjut Abdul Rivai, berkaitan dengan karakter industri perkebunan yang tidak terlepas dari keberadaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

PTPN I juga membuka peluang kolaborasi dengan mahasiswa, mulai dari riset, pemanfaatan lahan yang belum produktif, hingga program magang.

Mahasiswa bidang Informatika, misalnya, dapat mengembangkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung aktivitas perkebunan.

“Kami membuka ruang, kemudian lahan-lahan kami yang tidur itu bisa dibuat produktif, bisa ditanami, bisa bekerja sama,” ujar Abdul Rivai.

Peluang tersebut mendapat respons positif dari mahasiswa USB YPKP.

Raffael Mikyal Ashtariq, mahasiswa Teknik Elektro USB YPKP Bandung, mengatakan kuliah umum tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya penerapan ilmu yang dipelajari di kampus dalam industri hijau.

“Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, saya jadi melihat bahwa ilmu yang kami pelajari bisa diterapkan langsung di industri. Kalau ada kesempatan riset atau magang di PTPN I, tentu menarik karena kami bisa belajar dari persoalan nyata di lapangan, tidak hanya dari teori di kampus,” kata Raffael.

Tantangan Perkebunan

Di tengah peluang tersebut, transformasi industri hijau pada sektor perkebunan juga menghadapi tantangan. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut mengejar produktivitas, tetapi juga menjaga keseimbangan aspek sosial dan lingkungan.

Abdul Rivai mengatakan perhatian terhadap sektor perkebunan perlu diikuti dengan upaya menjaga aset, sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap ketahanan pangan dan energi.

“Semakin banyak yang peduli tentang perkebunan, semakin kami berusaha mencoba menjaga aset kami, dan juga mendorong urusan-urusan ketahanan pangan maupun ketahanan energi,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya green financing yang semakin dibutuhkan perusahaan untuk menghadapi tuntutan pasar internasional.

Menurutnya, perusahaan yang ingin memperoleh akses pembiayaan maupun pasar global perlu memperhatikan prinsip ramah lingkungan dan menerapkan praktik bisnis hijau.

“Green financing itu dibutuhkan ketika perusahaan-perusahaan ingin mendapatkan bantuan, market, dan pasar di dunia internasional. Itu harus berbasis pada eco-friendly, berbasis pada konteks hijau, bisnis industri hijau. Nah, itu bisa diedukasi mulai dari kampus,” paparnya.

Dorong Kolaborasi Berkelanjutan

Abdul Rivai mengapresiasi inisiatif USB YPKP Bandung dalam mengembangkan konsep green campus sekaligus membangun komunikasi dengan dunia industri.

Menurutnya, kolaborasi perguruan tinggi dengan BUMN dan korporasi penting untuk mempertemukan kebutuhan akademik dengan persoalan nyata di lapangan.

“Ini sesuatu yang luar biasa. Saya mengapresiasi ada upaya-upaya kampus seperti ini, bagaimana mendorong terbangunnya yang disebut dengan Green Campus. Ini akan memicu atau memberi pesan bahwa ke depan kampus ini akan concern dalam masalah-masalah bisnis hijau,” tuturnya.

Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada kegiatan kuliah umum, tetapi berkembang menjadi riset bersama, program magang, serta pengembangan proyek yang memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan.

Sinergi USB YPKP Bandung dan PTPN I tersebut sekaligus mempertegas pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan talenta yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri.

Melalui penguatan green campus dan kolaborasi dengan industri, mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman serta wawasan yang lebih dekat dengan praktik keberlanjutan, sehingga mampu membawa prinsip tersebut ke dunia kerja dan kehidupan masyarakat.

Check Also

Program GENTING, BRI Peduli Salurkan Bantuan Renovasi Rumah bagi Keluarga Risiko Stunting di Ciamis

MATAKOTA || Ciamis, — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Tanggung Jawa…