Genangan banjir Bojongsoang Kabupaten Bandung 15 April 2026
Home All News Banjir Bandung Raya Kembali Terjadi, Ini Pandangan Ketua Corong Jabar Soal Pola Aliran Air
All News - Berita - Regional - 2026-04-16

Banjir Bandung Raya Kembali Terjadi, Ini Pandangan Ketua Corong Jabar Soal Pola Aliran Air

MATAKOTA II Bandung – Banjir kembali melanda sejumlah wilayah Bandung Raya, terutama kawasan hilir Kabupaten Bandung seperti Bojongsoang, yang setiap musim hujan kerap mengalami genangan di beberapa titik jalan utama.

Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah seperti Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah berada pada kawasan cekungan alami yang menjadi titik akhir aliran air dari berbagai wilayah Bandung Raya.

Saat curah hujan meningkat, aliran air dari wilayah utara dan selatan Bandung Raya mengalir menuju sistem Sungai Citarum, sehingga memicu peningkatan debit air di kawasan hilir yang lebih rendah.

Pemerintah daerah sebelumnya menyampaikan bahwa terdapat sekitar 13 kecamatan di Kabupaten Bandung yang terdampak bencana hidrometeorologi berupa banjir dan angin puting beliung saat intensitas cuaca ekstrem meningkat, termasuk Kecamatan Bojongsoang.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Presidium Corong Jabar, Yusup Sumpena, SH, S.PM, atau Kang Iyus, menilai bahwa penanganan bencana perlu dilihat dari sistem pengelolaan air dan tata ruang secara menyeluruh berbasis Daerah Aliran Sungai.

Ia menjelaskan bahwa penanganan tidak dapat hanya difokuskan pada wilayah terdampak, tetapi harus dimulai dari penguatan sistem pengendalian air di kawasan hulu Bandung Raya secara terintegrasi.

Menurutnya, pendekatan dari hulu ke hilir menjadi kunci agar beban aliran air tidak terkonsentrasi di satu jalur utama yang akhirnya berdampak ke wilayah hilir saat curah hujan tinggi.

Ketua Presidium Corong Jabar, Yusup Sumpena, SH, S.PM. (Dok. Corong Jabar)

Kang Iyus menyebut, beberapa wilayah di Kabupaten Bandung Selatan seperti Pangalengan dan Ciwidey memiliki potensi untuk pengembangan kolam retensi serta area resapan air sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir. Permasalahan yang butuh perhatian dan tindakan penanganan resapan air khususnya di KBS dan KBU agar dijaga ketat pengawasan karena banyak pengembang maupun pengusaha yang membangun tanpa IPT, legalitas formal, dan pembalakan lahan ilegal.

Selain itu, kawasan Kota Bandung bagian utara dan Kabupaten Bandung Barat juga dinilai penting untuk penguatan sistem tampungan air agar dapat mengurangi debit air yang langsung mengalir ke hilir.

Ia juga menegaskan bahwa normalisasi Sungai Citarum tetap harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sebagai bagian dari sistem utama pengendalian air di Bandung Raya.

Di sisi lain, warga di wilayah terdampak masih harus beraktivitas meski kondisi jalan kerap tergenang air saat hujan deras melanda kawasan tersebut.

Seorang warga, Nandang, yang merupakan warga Kabupaten Bandung dan kerap melintasi kawasan Bojongsoang, mengaku tetap harus bekerja meski harus menerobos genangan banjir setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Ya setiap hari tetap harus terobos banjir karena harus kerja untuk kebutuhan di rumah,” ujar Nandang, Rabu (15/4/2026) sekitar pagi hari.

Ia berharap adanya langkah penanganan yang lebih efektif dan berkelanjutan agar banjir dan dampak cuaca ekstrem tidak terus mengganggu aktivitas serta perekonomian masyarakat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi di Bandung Raya bukan hanya disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga berkaitan dengan sistem aliran air, tata kelola wilayah, dan kesiapan infrastruktur yang perlu diperkuat secara menyeluruh.*

Check Also

Di Soreang, Dua Peringatan Nasional Digelar dalam Satu Upacara

MATAKOTA II Bandung – Lapangan Upakarti Soreang menjadi lokasi upacara peringatan Hari Keb…