Ilustasi Gizi Buruk Foto Net
Home Berita Pandemi Covid-19 Picu Lonjakan Gizi Buruk di Bandung
Berita - 2021-02-23

Pandemi Covid-19 Picu Lonjakan Gizi Buruk di Bandung

Bandung, matakota.com — Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Dewi Primasari menyebut, kondisi pandemi Covid-19 memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap permasalahan gizi Balita. Kata dia, permasalahan gizi pada tahun 2020 di Kota Bandung mengalami kenaikan.

Dibeberkan, pada tahun 2019, permasalahan gizi di Kota Bandung berada diangka 3,22 persen. Rinciannya, sebanyak 678 balita dengan gizi buruk dan 3.321 lainnya mengalami gizi kurang.

Lebih lanjut, tahun 2020 naik menjadi 5,33 persen, yakni 1.218 balita dengan gizi buruk dan 4.490 lainnya mengalami gizi kurang.

“Tapi Balita yang diukur di tahun 2020 juga berkurang. Tahun 2019 sebanyak 132.578 orang, sementara 2020 hanya 107.189 orang. Ini karena kondisi pandemi,” ungkapnya. (22/02/2021).

Menurutnya, permasalahan gizi buruk tidak hanya terjadi di Kota Bandung saja, tapi sudah menjadi permasalahan ditingkat nasional.

Dijelaskannya, ada beberapa inovasi maupun program yang telah dijalankan untuk menangani permasalahan gizi, diantaranya Beas Beureum, Rembulan, dan Sigurih.

Beas Beureum yaitu singkatan dari Bekel Anak Sekolah Bergizi Enak dan Murah, Rembulan (Remaja Bandung Unggul Tanpa Anemia), dan Sigurih (Studi Intensif Gizi Untuk Indonesia Hebat).

“Itu penanganan mulai dari level SD, SMP, SMA. Kita ini berbasis sekolah makanya kita bisa kerjakan se Kota Bandung,” tuturnya.

“Program lain yang berkolaborasi saat ini sudah berjalan dikomandoi oleh PKK yaitu Bandung Tanginas,” imbuhnya.

Adapun inovasi lainnya yang sudah diterapkan di Kecamatan Bandung Wetan dan Kecamatan Antapani, yaitu Omaba (Ojek Makanan Balita). Melalui inovasi Omaba, kader PKK akan memasak makanan sehat kemudian mengantarkannya ke rumah balita penyandang masalah gizi.

Diungkap Dewi, hampir setiap puskesmas punya inovasi untuk menangani gizi buruk. Penyelesaiannya dilakukan sesuai kondisi di wilayahnya. Salah satunya lewat inovasi Omaba.

“Kalau diinventarisir hampir 30 Kecamatan punya inovasi sendiri, karena mereka menganalisa masing-masing jadi disesuaikan dengan kondisi wilayah,” pungkasnya. (DRY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Sempat Diterpa Isu Mundur, Wali Kota Bandung Nyatakan Sehat dan Siap Kembali Bertugas

MATAKOTA, Bandung – Wali Kota Bandung Oded M Danial mengatakan dirinya sudah sehat d…