Home Pemerintahan GENTING Sasar Keluarga Berisiko Stunting, Wihaji Tinjau Langsung Rumah Warga di Indramayu
Pemerintahan - 2026-09-18

GENTING Sasar Keluarga Berisiko Stunting, Wihaji Tinjau Langsung Rumah Warga di Indramayu

MATAKOTA|| INDRAMAYU – Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) menyasar keluarga berisiko stunting di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Program tersebut tidak hanya menyentuh pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga menyasar kondisi sanitasi dan tempat tinggal keluarga yang dinilai berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., bersama jajaran Kemendukbangga/BKKBN dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Kamis (17/9/2026), meninjau langsung kondisi sejumlah keluarga berisiko stunting di Desa Karangampel, Kabupaten Indramayu.

Salah satunya keluarga Muhammad Nabil dan istrinya, Rismawati. Nabil sehari-hari bekerja sebagai pengamen sekaligus berdagang. Pasangan tersebut tinggal bersama ibu dan anggota keluarga lainnya dalam satu rumah serta memiliki anak yang masih berusia di bawah dua tahun (baduta).

Kondisi rumah yang ditempati keluarga Nabil cukup memprihatinkan. Bangunan rumah sebagian menggunakan material triplek dengan atap asbes. Kondisi sanitasi dan jamban juga menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut.

Wihaji mengatakan keluarga yang memiliki anak dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk baduta, menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian dalam upaya pencegahan stunting.

“Keluarga Berisiko Stunting (KRS), yang kebetulan punya anak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) atau baduta. Tadi punya anak baduta, ini juga punya anak baduta. Ternyata rumahnya termasuk kategori KRS, Keluarga Berisiko Stunting. Saya sudah lihat sampai ke dalam, tadi saya sholat di sana. Antara kebutuhan air, antara MCK, kemudian dapur, itu menyatu,” ungkap Wihaji.

Menurutnya, kondisi sanitasi dan lingkungan tempat tinggal menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam penanganan keluarga berisiko stunting. Sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan penyakit infeksi, termasuk diare, yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi pada anak.

Selain keluarga Nabil, Wihaji juga mengunjungi rumah keluarga berisiko stunting lainnya, yakni Nur Alfi bersama suaminya, Agys Hermawan.

Nur Alfi diketahui sedang hamil, sementara suaminya sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas. Keluarga tersebut juga tinggal bersama kedua orangtuanya dengan kondisi rumah yang dinilai membutuhkan perhatian.

Wihaji menjelaskan bantuan melalui GENTING tidak diberikan dalam bentuk uang tunai kepada keluarga penerima manfaat. Bantuan diarahkan langsung pada kebutuhan yang diperlukan, termasuk perbaikan tempat tinggal.

“Bukan uang, tapi nanti langsung jadi rumah. Ada timnya yang dari kita bersama BRI,” kata Wihaji.

Ia menjelaskan, GENTING merupakan gerakan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan pentahelix. Sejumlah pihak telah terlibat sebagai mitra atau Orang Tua Asuh (OTA), di antaranya BRI, Bank Mandiri, BSI, BAZNAS, Rumah Zakat, Yayasan Kita Bisa dan berbagai pihak lainnya.

“Yang penting yang bisa kita bantu dari Kementerian, namanya GENTING, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, pentahelix kerja sama dengan berbagai stakeholders. Ada BRI, ada Mandiri, ada BSI, ada BAZNAS, ada Rumah Zakat, ada Yayasan Kita Bisa, dan sebagainya. Tapi hari ini di Indramayu terima kasih BRI yang mendampingi kita,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Kemendukbangga/BKKBN tidak menerima ataupun mengelola uang tunai yang diberikan oleh donatur. Mitra atau Orang Tua Asuh yang telah memiliki rekanan maupun menunjuk pihak ketiga dapat mengelola dan menyalurkan bantuan secara langsung kepada keluarga sasaran.

Bantuan GENTING diutamakan dalam bentuk paket nutrisi maupun bantuan non-nutrisi, seperti dukungan sanitasi, penyediaan air bersih dan pembangunan jamban sehat.

Berdasarkan data SIGA (Sistem Informasi Keluarga), jumlah Keluarga Berisiko Stunting (KRS) yang tercatat di Kabupaten Indramayu mencapai 27.051 keluarga berdasarkan hasil verifikasi dan validasi KRS tahun 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Wihaji juga mengapresiasi capaian Kabupaten Indramayu dalam penanganan stunting. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, prevalensi stunting di Indramayu tercatat sebesar 9,8 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 19,8 persen.

Meski demikian, keberadaan puluhan ribu keluarga berisiko stunting menunjukkan bahwa upaya pencegahan tetap membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.

Melalui GENTING, intervensi diarahkan tidak hanya pada anak, tetapi juga pada kondisi keluarga dan lingkungan yang menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang generasi sejak periode awal kehidupan.

Penulis: RFS
Editor: FAN
Foto: Humas BKKBN Provinsi Jawa Barat

Check Also

BRI Peduli Perkuat Dukungan Penanganan Stunting Lewat Renovasi Rumah di Indramayu

MATAKOTA|| INDRAMAYU – Upaya pencegahan stunting tidak hanya menyangkut pemenuhan gizi, te…