Home Pemerintahan Stunting Indramayu 9,8 Persen, Wihaji Minta TPK Perkuat Pendampingan Keluarga
Pemerintahan - 2026-09-17

Stunting Indramayu 9,8 Persen, Wihaji Minta TPK Perkuat Pendampingan Keluarga

 

MATAKOTA|| INDRAMAYU – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji meminta lebih dari 1.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK) se-Kabupaten Indramayu turut mengawal distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok 3B.

Hal itu disampaikan Wihaji saat menghadiri Temu Kader TPK di Gedung Dakwah, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Kamis (17/9/2026).

Menurut Wihaji, kelompok 3B yang menjadi sasaran distribusi MBG meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Keterlibatan TPK dalam distribusi tersebut merupakan bagian dari penugasan pemerintah untuk memastikan bantuan makanan bergizi diterima kelompok yang membutuhkan.

Wihaji mengatakan, penugasan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto agar jajaran kementerian dan para pemangku kepentingan tidak hanya berkutat pada rapat dan seminar, tetapi turun langsung menyelesaikan persoalan di lapangan.

“Saya sebagai pembantu presiden, diperintah oleh beliau, jangan banyak diskusi, jangan banyak seminar, terjun ke lapangan, selesaikan masalah,” kata Wihaji.

Ia menyebutkan, distribusi MBG untuk kelompok 3B di Indramayu telah berjalan di sebagian besar titik penyaluran. Adapun titik yang belum berjalan akan segera ditindaklanjuti bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Stunting Indramayu di Bawah Angka Nasional

Dalam kesempatan tersebut, Wihaji mengungkapkan prevalensi stunting di Kabupaten Indramayu tercatat 9,8 persen, sedangkan angka nasional yang disebutkannya mencapai 19,8 persen.

Meski angka tersebut berada di bawah rata-rata nasional, Wihaji meminta para kader tidak mengendurkan upaya pencegahan. Salah satu hal yang disorot adalah masih adanya pernikahan usia dini yang dinilai menjadi salah satu faktor risiko stunting.

“Kalau di Indramayu cuma 9,8 persen. Berarti kalau ada 10 balita, stuntingnya cuma satu,” ujarnya.

Ia mengingatkan, persentase tersebut tetap harus dilihat berdasarkan jumlah populasi balita di Indramayu sehingga upaya pencegahan dan pendampingan tetap diperlukan.

TPK Dampingi Keluarga Sepanjang Siklus Kehidupan

Wihaji menjelaskan, TPK memiliki peran dalam pendampingan keluarga pada berbagai tahapan kehidupan. Sasaran pendampingan mencakup calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, anak di bawah dua tahun (baduta), balita, remaja, hingga lanjut usia (lansia).

Untuk calon pengantin, ia menekankan pentingnya memastikan kesiapan dan usia pernikahan. Ia menyebut usia ideal menikah minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

“Salah satu sebab stunting adalah pernikahan,” ujarnya.

Sementara bagi baduta, pendampingan dinilai penting karena berada dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Wihaji menekankan pentingnya pencegahan sejak awal karena penanganan setelah anak melewati usia dua tahun disebut lebih sulit.

“Kalau sudah dua tahun tidak stunting, ke sananya tidak akan stunting. Tetapi kalau di usia dua tahun kena stunting, yang bisa disembuhkan cuma 20 persen,” katanya.

Soroti Penggunaan Gawai Remaja

Wihaji juga menyoroti persoalan penggunaan telepon seluler di kalangan remaja. Ia menyebut anak-anak saat ini dapat menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan gawai, sementara komunikasi langsung dengan orang tua relatif singkat.

“Anak-anak kita setiap hari pegang telepon genggam minimal delapan jam. Ibu ngobrol sama anak paling sepuluh menit,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun komunikasi antara orang tua dan anak agar keluarga tetap menjadi tempat utama bagi anak untuk berbagi cerita dan menghadapi persoalan.

Dorong Program Sekolah Lansia

Pada kelompok lansia, Wihaji mengungkapkan proporsi penduduk lanjut usia di Indramayu mencapai 11,9 persen dari total penduduk.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sebagian lansia berpotensi mengalami kesepian ketika anak-anak mereka bekerja atau tinggal di luar daerah.

Ia pun mendorong jajaran pemerintah daerah merealisasikan program Sekolah Lansia yang dapat diisi dengan berbagai kegiatan sosial, keagamaan maupun rekreasi, termasuk pengajian dan wisata religi.

Di sela kegiatan, Wihaji juga memberikan bantuan uang tunai kepada sejumlah kader TPK sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja mereka di lapangan.

TPK Kawal Distribusi MBG

Usai acara, Wihaji menjelaskan kunjungannya ke Indramayu merupakan bagian dari kunjungan kerja untuk memastikan penugasan TPK dalam mendukung distribusi MBG bagi kelompok 3B berjalan sesuai ketentuan.

“Kita pastikan bahwa tugas baru ini bisa dikerjakan oleh para TPK, maka kita cek langsung,” katanya.

Ia menyebut sekitar 80 hingga 90 persen TPK di Indramayu telah menjalankan tugas distribusi MBG. Para kader tersebut mendapatkan insentif Rp1.000 per porsi yang dicairkan setiap sepuluh hari sesuai skema program.

Namun, Wihaji menegaskan distribusi MBG bukan satu-satunya intervensi dalam upaya menekan angka stunting. Penanganan stunting, menurutnya, membutuhkan pendekatan yang lebih luas, termasuk pemenuhan rumah layak huni, akses air bersih, edukasi, dan sanitasi.

“Apakah langsung selesai stunting? Enggak. Karena tidak hanya asupan gizi yang dibutuhkan, butuh rumah layak, butuh air bersih, butuh edukasi, juga butuh sanitasi,” ujarnya. (NJP/BA)

Check Also

Catat! Pocari Sweat Run Bandung 2026 Digelar 19-20 September, Ini Daftar Rute yang Dilalui

  MATAKOTA|| BANDUNG – Warga Kota Bandung dan pengguna jalan diminta mengantisipasi r…