Home All News Menjaga Mata Air Pacira, Yayasan Panata Giri Raharja Ajak Bersama Peduli Lingkungan
All News - Berita - Public - Regional - 2026-07-10

Menjaga Mata Air Pacira, Yayasan Panata Giri Raharja Ajak Bersama Peduli Lingkungan

MATAKOTA II Bandung – Keberadaan sejumlah mata air di kawasan Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali (Pacira), Kabupaten Bandung, menjadi perhatian seiring adanya pengamatan terhadap perubahan debit sumber air.

Perhatian tersebut tidak hanya tertuju pada titik keluarnya air, tetapi juga pada kondisi lingkungan yang menjadi penyangga keberlangsungannya. Vegetasi, kawasan resapan, sempadan sungai, hingga rawa gunung menjadi bagian yang turut diperhatikan dalam melihat kondisi sumber air.

Melihat hal tersebut, Yayasan Panata Giri Raharja bersama Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) melakukan identifikasi kondisi lingkungan di sejumlah titik wilayah Pacira.

Ketua Yayasan Panata Giri Raharja, Memet Achmad Surachman atau yang akrab disapa Eyang Memet, mengatakan kepedulian terhadap mata air berawal dari kegelisahan melihat perubahan kondisi alam dan iklim yang semakin terasa.

“Ini hanya bentuk panggilan hati saja. Berawal dari sebuah kekhawatiran ketika kita mencoba mendengar, menyaksikan, dan membaca bagaimana kondisi iklim saat ini. Kita merasakan panas yang sangat hebat sehingga ada sesuatu yang harus kami lakukan,” ujar Eyang Memet saat ditemui di kediamannya di wilayah Kecamatan Pasirjambu, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, menjaga mata air tidak bisa hanya melihat air yang muncul di permukaan. Kondisi kawasan sekitar menjadi bagian penting yang menentukan keberlangsungan sumber air.

Pada musim tanam 2026, Yayasan Panata Giri Raharja memberi perhatian terhadap upaya menjaga mata air di wilayah Pacira. Dari pengamatan yang dilakukan, terdapat sejumlah titik yang mengalami penurunan debit sehingga membutuhkan perhatian bersama.

Eyang Memet menjelaskan, upaya menjaga mata air bukan sekadar menanam pohon, tetapi memahami karakter kawasan agar langkah yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan lingkungan.

“Kalau berbicara objek yang akan ditanam, itu akan menentukan tanaman apa yang harus disiapkan untuk pelestarian dan perlindungan mata air. Jenis tanaman yang sesuai peruntukannya sudah disiapkan,” katanya.

Dalam proses identifikasi tersebut, tim konservasi melihat langsung sejumlah titik di Pacira. Kegiatan ini melibatkan Dewan Pengawas FK3I Jawa Barat Riki Rohimat Effendi, BKO FK3I Jawa Barat Uus Sopianda serta FK3I Bandung Selatan Yusuf Jabaril Suwanda.

Foto: Dok. Panata Giri Raharja
Tim konservasi saat melihat kondisi lingkungan di wilayah Pacira, Kabupaten Bandung.

Riki Rohimat Effendi mengatakan, kondisi vegetasi menjadi salah satu indikator penting dalam melihat keberadaan sumber air.

“Ketika berbicara mata air, itu menjadi parameter lingkungan yang baik. Ketika vegetasi bagus, lingkungan bagus, airnya juga bagus,” ujar Riki.

Menurut Riki, hasil identifikasi lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda di sejumlah kawasan. Ada lokasi yang masih memiliki vegetasi baik, sementara beberapa titik lainnya membutuhkan perhatian terhadap fungsi resapan air dan lingkungan pendukungnya.

Ia menilai, persoalan mata air tidak hanya melihat air yang keluar dari sumbernya, tetapi juga bagaimana manusia menjaga kawasan yang menjadi penopang keberlangsungannya.

Melalui identifikasi tersebut, Yayasan Panata Giri Raharja bersama FK3I berharap memperoleh gambaran kondisi lingkungan Pacira sebagai bahan untuk menentukan langkah pelestarian berikutnya.

Sebab bagi masyarakat Bandung Selatan, keberadaan mata air bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan sumber kehidupan yang perlu dijaga bersama.* Uus MataKota.

Check Also

30 Hari Bereskan Rekomendasi BPK, Ini Target untuk OPD Kabupaten Bandung

MATAKOTA II Bandung – Tiga puluh hari menjadi batas waktu yang diberikan kepada seluruh or…