IMG 20210403 114855
Home All News Divonis Bebas, Ini Jejak Hitam Andri dan Totoh di Pusaran Korupsi Bansos
All News - Berita - Hukum - 4 weeks ago

Divonis Bebas, Ini Jejak Hitam Andri dan Totoh di Pusaran Korupsi Bansos

MATAKOTA, Bandung – Meski mengaku heran, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghormati vonis bebas yang dijatuhkan majelis hakim PN Tipikor Bandung terhadap dua terdakwa korupsi pengadaan bantuan sosial (bansos) di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Andri Wibawa dan M Totoh Gunawan.

M Totoh Gunawan merupakan pemilik PT Jagat Dir Gantara, sedangkan Andri Wibawa merupakan anak kandung Bupati Bandung Barat nonaktif Aa Umbara Sutisna.

“Atas putusan tersebut, KPK tentu menghormatinya. Namun tim jaksa akan segera mempelajari putusan lengkapnya dan pikir-pikir untuk langkah hukum berikutnya,” ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Kamis (4/11/2021).

Meski demikian, Ali mengaku heran dengan pertimbangan hakim yang membebaskan keduanya. Pasalnya, terdakwa Andri Wibawa dan M Totoh Gunawan sudah mengakui perbuatannya melakukan korupsi bansos secara bersama-sama dengan Aa Umbara.

Dalam persidangan, jaksa pun berhasil mengungkap jika Aa Umbara turut melibatkan anak dan istri sirinya cawe-cawe proyek pengadaan paket barang tanggap darurat pandemi COVID-19 untuk masyarakat miskin KBB.

KPK membeberkan, Aa Umbara telah menunjuk langsung salah satu anaknya, Andri Wibawa, untuk jadi rekanan penyedia paket bansos.

Dalam menjalankan modusnya, Andri Wibawa dibantu oleh Diane Yuliandari dan Dicky Yuswandira untuk menyediakan perusahaan yang akan dijadikan bendera sebagai peserta tender.

BACA JUGA: KPK Keok! Hakim PN Tipikor Bandung Bebaskan Dua Terdakwa Korupsi Bansos

Dibeberkan KPK, Diane Yuliandari adalah istri siri dari Aa Umbara. Sementara, Dicky Yuswandira adalah adik dari Diane.

KPK menyebutkan, Diane dan Dicky mendapatkan keuntungan dari Andri Wibawa sebesar Rp 188 juta. Sedangkan Andri selaku putra kandung Aa Umbara, mendapatkan keuntungan dari 120.675 paket sembako, sebesar Rp 2,6 miliar.

Awal mula korupsi yang dilakukan Aa Umbara dilakukan saat Pemkab Bandung Barat melakukan refocusing anggaran penanggulangan COVID-19 dalam bentuk Belanja Tidak Terduga (BTT) Tahun Anggaran (TA) 2020.

Saat itu, BTT yang diperuntukkan bagi pemberian bansos kepada masyarakat terdampak COVID-19 ditetapkan sebesar Rp 52 miliar lebih.

Menurut KPK, dalam mewujudkan program bansos tersebut Aa Umbara menginginkan adanya keuntungan bagi dirinya dan keluarga.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Aa Umbara kemudian menunjuk penyedia paket bansos sembako yang merupakan orang-orang terdekat serta keluarganya.

Aa Umbara pun kemudian bertemu dengan M Totoh Gunawan selaku pengusaha sekaligus tim sukses Aa Umbara saat mencalonkan diri menjadi Bupati Bandung Barat.

Dalam pertemuan itu, Aa Umbara meminta Totoh untuk menjadi penyedia paket bansos dengan jumlah 120 ribu paket untuk jaring pengaman sosial (JPS) sebesar Rp 300 ribu per paket dan untuk kegiatan PSBB sebesar Rp 250 ribu per paket.

Aa Umbara meminta jatah enam persen dari total keuntungan untuk dirinya. Adapun dipilihnya perusahaan M Totoh Gunawan dengan mekanisme penunjukan langsung.

BACA JUGA: Terbukti Korupsi Bansos, Aa Umbara Divonis 5 Tahun Bui

Untuk melancarkan modus kejahatannya, Aa Umbara lalu mengenalkan Totoh ke pejabat Pemkab Bandung Barat sebagai pengusaha pengadaan paket sembako JPS dan PSBB.

Dalam pelaksanaannya, pembayaran paket sembako tersebut dilakukan secara bertahap. Tercatat, sebanyak enam kali pembayaran yang dilakukan Pemkab Bandung Barat kepada perusahaan Totoh Gunawan.

Diungkap KPK, dari enam kali pengadaan bansos sebanyak 55.378 paket, Pemkab Bandung Barat telah melakukan pembayaran sebesar Rp 15.948.750.000.

Totoh mendapat jatah menyalurkan Bansos sebanyak 55.378 paket dalam 6 tahap. Nilai kontraknya Rp 15.948.750.000.

Proyek digarap menggunakan bendera PT Jagat Dirgantara dan CV Sentral Sayuran Garden. Alhasil, teman masa kecil Aa Umbara itu bisa meraup untung Rp 3.405.815.000.

Terungkap di persidangan, Aa Umbara menerima uang yang diduga fee proyek bansos dari Totoh Rp 1.405.815.000.

Selain dengan Totoh Gunawan, Aa Umbara juga bekerja sama dengan anaknya Andri Wibawa, untuk penyediaan bansos.

Diungkap KPK, Andri sendiri sudah menyiapkan perusahaan yang akan menjadi penyedia bansos. Dia juga meminta imbalan satu persen dari keuntungan yang didapat perusahaan tersebut.

Dalam pelaksanaannya, Pemkab Bandung Barat membayar Andri dengan empat kali tahapan. Total uang yang dibayarkan untuk 120.675 paket sebesar Rp 36.202.500.000.

Dari keterlibatannya di proyek bansos tersebut, Andri Wibawa mendapatkan keuntungan Rp 2,6 miliar.

Saat membacakan nota pembelaannya, Andri Wibawa mengakui keterlibatannya dalam pusaran korupsi proyek bansos. Bahkan Andri mengatakan jika dirinya lebih layak dihukum ketimbang ayahnya (Aa Umbara).

Andri pun mengatakan, jika peta konflik terjadinya kasus itu tak lepas dari perannya.

“Saya memohon kepada Majelis Hakim yang Mulia untuk memvonis bebas Bapak saya (Aa Umbara Sutisna). Sayalah orang yang lebih pantas mendapat hukuman dibandingkan beliau. Sayalah peta konflik terjadinya perkara ini, paksaan kehendak pribadi saya yang menempatkan beliau berada di dalam pusaran masalah tindak pidana korupsi ini,” ucap Andri. (DRY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

DPRD Kota Bandung Minta BPBD Diatur Perda

MATAKOTA, Bandung — Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan Bah…