disdik
Home All News Dewan Kaget! Anggaran Belanja Modal Disdik Kota Bandung Tembus Rp 200 Miliar
All News - Parlemen - 3 weeks ago

Dewan Kaget! Anggaran Belanja Modal Disdik Kota Bandung Tembus Rp 200 Miliar

MATAKOTA, Bandung – Rapat Paripurna Pemandangan Umum Fraksi DPRD Kota Bandung terhadap Anggaran Pendapatan dan Be­lan­ja Daerah Perubahan (APBD-P) 2021, usai digelar kemarin, Jumat (3/9/2021).

Se­mua fraksi memberikan pandangan umumnya terhadap APBD-P yang di­serahkan Wali Kota Bandung Oded M. Danial, belum lama ini.

Diinformasikan, draf dokumen APBD-P Kota Bandung tahun 2021 itu mendulang catatan kritis dari frak­­si-fraksi. Di antaranya terkait adanya kenaikan anggaran belanja modal peralatan dan mesin pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung.

Anggota Badan Anggaran (Banggar) dari Faksi Partai Demo­krat, Riana mengaku kaget dialokasikannya anggaran belanja modal peralatan dan mesin pada Dinas Pendidikan hingga lebih dari Rp 200 miliar.

Dia menilai, tingginya ang­garan belanja modal Disdik Kota Bandung kurang mam­­p­u mengaplikasikan program pendidikan yang dibuat­nya.

“Rendahnya anggaran pen­di­di­kan bisa berdampak lang­sung pada mutu pendidikan Kota Bandung,” tegas Riana.

Kata dia, usulan tersebut mesti dilakukan kajian ulang yang lebih komprehensif agar tidak mem­bebani keuangan daerah.

“Kajian itu harus menyeluruh dulu dong, baru diusulkan,” kata Riana, yang dihubungi, Sabtu (4/9/2021).

Ditegaskan, Fraksi Partai De­mokrat kembali menekankan agar Pemkot Bandung mengkaji ulang anggaran belan­­ja modal peralatan dan mesin Disdik yang mencapai Rp 200 miliar tersebut.

“Kucuran anggaran itu harus merepresentasikan kebutuhan, serta membandingkan kondisi riil belanja tak lang­­sung dan belanja lang­sung,” ucap Riana.

Pandangan sama dilontarkan anggota  Fraksi PSI-PKB DPRD Kota Bandung Erick Darmajaya. Dia mengkritisi kenaikan anggaran belanja modal peralatan dan mesin pada Disdik Kota Bandung yang mencapai lebih dari Rp 200 miliar.

Menurut Erick, APBD-P seharusnya diperuntukan dalam mengantisipasi situasi dan kondisi yang tidak lagi sesuai dengan asumsi-asumsi yang dibuat sebelumnya, termasuk kondisi darurat seperti pandemi COVID-19.

Dia mengatakan, saat ini masih membutuhkan anggaran yang berfokus pada penanganan dan penanggulangan penyebaran virus corona.

“Kalau dihitung-hitung, anggaran sebesar Rp 200 miliar sangat dibutuhkan untuk meningkatkan mutu pen­didikan, apalagi kita merasakan sudah lebih dari satu tahun siswa didik belajar di rumah,” sebut  Erick, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Sabtu (4/9/2021).

Dia pun mempertanyakan Pemkot Bandung justru menganggarkan pengadaan mebel untuk SD sebesar Rp 27 miliar, pengadaan perlengkapan SD Rp 35 miliar, pengelolaan dana BOS SD Rp 25 miliar, pengadaan mebeler SMP Rp 25 miliar, perlengkapan SMP Rp 98 miliar, serta pengelolaan dana BOS Rp 7,7 miliar.

“Totalnya mencapai lebih dari Rp 200 miliar,” papar Erick.

“Kita mengerti bahwa sekolah-sekolah membutuhkan mebel dan perlengkapan, tetapi meminta anggaran sebesar itu dalam situasi seperti sekarang, rasanya kurang tepat,” sambungnya.

Erick mengharapkan Pemkot Bandung menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat untuk fokus pada bidang kesehatan, ekonomi, dan tenaga kerja.

“Kita punya masalah pengangguran tinggi, perdagangan dan industri menyurut, juga kondisi UMKM kita sangat berat sekarang. Kita perlu solusi di sisa tahun anggaran 2021 ini,” cetusnya. (Edi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

KPK Eksekusi Tomtom dan Kadar Slamet ke LP Sukamiskin

MATAKOTA, Jakarta – Perkara telah berkekuatan hukum tetap, Komisi Pemberantasan Koru…