IMG 20211022 WA0062
Home All News Aliansi Nano Jabar Kecam Ridwan Kamil Soal Politisasi Korban COVID-19
All News - Nasional - 2021-10-22

Aliansi Nano Jabar Kecam Ridwan Kamil Soal Politisasi Korban COVID-19

MATAKOTA, Bandung –  Kinerja Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil yang seolah identik dengan pencitraan, kembali menuai kecaman. Kali ini datang dari sekelompok masyarakat yang menamakan diri Aliansi Nano Jabar.

Lewat keterangan tertulisnya, Aliansi Nano Jabar menolak keras  politisasi yang dilakukan Ridwan Kamil terkait korban pandemi COVID-19.

Penolakan tersebut dituangkan dalam pernyataan sikap bersama yang ditandatangani oleh beberapa tokoh dari berbagai elemen masyarakat di Grand Kosambi Bandung, Jum’at 22 Oktober 2021.

Ketua Presidium Aliansi Nano Jabar Herry Mei Oloan mengatakan, Ridwan Kamil telah mempolitisasi pandemi COVID-19 dengan membangun Monumen Perjuangan Tenaga Kesehatan COVID-19 di seberang Lapangan Gasibu Bandung.

Monumen Perjuangan COVID-19 sendiri berada di kawasan Monumen Perjuangan (Monju) Rakyat Jabar yang pernah direvitalisasi oleh Gubenur Jabar sebelumnya, Ahmad Heryawan.

Rencananya, peresmian Monumen Perjuangan COVID-19 yang lokasinya tidak jauh dari Gedung Sate itu akan dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

‘Seharusnya Ridwan Kamil memberikan perhatian lebih kepada korban COVID-19 dan keluarganya yang ditinggalkan ketimbang membangun monumen dengan menelan biaya miliaran rupiah,” ucap dia.

“Terlalu prematur kalau membangun monumen perjuangan COVID-19 sekarang ini. Selain pemerintah pusat belum mencabut status darurat, juga kita (Indonesia) masih terancam datangnya gelombang ketiga pandemi COVID-19,” imbuh Herry.

Aliansi Nano Jabar menilai, pembangunan Monumen Perjuangan COVID-19 sebagai bentuk politisasi Ridwan Kamil atas terjadinya pandemi COVID-19.

Berikut pernyataan sikap Aliansi Nano Jabar yang ditandatangani oleh beberapa tokoh dari berbagai elemen di Jabar:

Pada tanggal 3 September 2021, Gubernur Jawa Barat (Jabar) mengumumkan kepada media massa akan dibangun Monumen Perjuangan Covid di seberang Lapangan Gasibu dan diharapkan akan diresmikan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Belakangan diakui oleh Gubernur Ridwan Kamil monument yang dimaksud adalah bangunan yang telah berdiri sebagai bagian dari Proyek Revitalisasi Kawasan Gasibu dengan nilai pagu Rp 90 miliar dari APBD Jabar dan telah selesai pada Maret 2020.

Hal ini berarti bangunan yang diklaim Ridwan Kami! sebagai Monumen Perjuangan COVID-19 adalah bangunan yang telah direncanakan dan didirikan sebelum terjadinya musibah COVID-19.

Dalam keterangan tertulis Jumat (22/10/2021), berdasarkan penelusuran Tim Aliansi Nano, terungkap pula Proyek Revitalisasi di kawasan Lapangan Gasibu telah berlangsung sejak tahun 2015 di masa pemerintahan Gubernur Ahmad Heryawan. Kawasan Gasibu dalam hal ini meliputi Lapangan Gasibu dan Monumen Perjuangan (Monju) Rakyat Jawa Barat.

Revitalisasi Kawasan Gasibu ini sempat mengundang kontroversi dan berpotensi melanggar hukum karena diduga kuat terjadi duplikasi anggaran untuk satu kegiatan, yakni anggaran yang bersumber dari APBD Provinsi Jabar dan anggaran yang bersumber dari dan CSR (Corporate Social Responsibility) Bank BJB maupun CSR dari swasta lainnya.

Rencana Ridwan Kamil mengutak-atik nama dan fungsi bangunan ini, menimbulkan problem hukum baik dari segi penganggaran maupun teknis bangunan.

Problematika hukum yang timbul adalah:

1. Status Bangunan Gedung

Bahwa berdasarkan Peraturan Menteri PUPR No. 22 Tahun 2018, maka bangunan Gedung yang akan disebut sebagai MONUMEN PERJUANGAN COVID-19 tersebut masuk dalam katagori BANGUNAN GEDUNG NEGARA (BGN) dengan klasifikasi khusus, sebagaimana diatur dalam pasal 14 ayat (5) huruf o, serta ketentuan sebagaimana diatur datam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021.

Sebagai Bangunan Gedung Negara (BCN) dengan Klasifikasi Khusus maka bangunan tersebut harus tunduk pada syarat-syarat administratif dan syarat teknis. Syarat administratif diantaranya adalah IMB serta dokumen perencanaan dan penganggaran. Sedangkan syarat teknis adalah menyangkut keandalan, fungsi, serta pengelolaan pasca konstruksi.

2. Penganggaran

Revitalisasi atas bangunan yang sebelumnya telah berdiri tidak bisa dilakukan serta merta tanpa melalui prosedur penganggaran yang telah di atur dalam PP No. 16 Tahun 2021 Tentang Bangunan Gedung.

Keberadaan bangunan yang telah berdiri sebagai bagian dari pelaksanaan pagu anggaran senilai 90 milyar pada tahun 2019, tidak bisa serta merta dilakukan pemugaran dan penggantian fungsi bangunan tanpa melalui dokumen perencanaan dan penganggaran yang baru.

Pasal 8 Peraturan Menteri PUPR Nomor 22 Tahun 2028 menyebutkan:
(1) Dokumen pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a berupa Daftar /Sian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau Daftar Pelaksanaan Anggaran (DPA).

(2) Dokumen pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pembangunan Bangunan Gedung Negara harus dilengkapi dengan: a. rencana kebutuhan; b. rencana pendanaan; dan c. rencana penyediaan dana

(3) Dokumen pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disahkan Oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selain pelanggaran terhadap peraturan perundangan sebagaimana tersebut di atas, perlu ditelaah lebih lanjut apakah anggaran yang digunakan untuk mengubah nama bangunan menjadi Monumen Perjuangan COVID-19 menggunakan anggaran CSR serta melibatkan lembaga lain di luar unsur Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Lembaga lain yang patut disorot adalah Jabar Bergerak yang selama ini menjadi wadah pengumpulan dana CSR dari berbagai sumber swasta.

Selain masalah teknis administrasi dan penganggaran, ambisi Ridwan Kamil untuk ‘merekayasa’ bangunan yang sudah ada menjadi Monumen Perjuangan COVID-19, patut dipertanyakan legitimasi moralnya dengan alasan sebagai berikut:

1. Bahwa di kawasan tersebut telah berdiri Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat yang merupakan memori historis akan perjuangan rakyat merebut kemerdekaan, dengan demikian pendirian monument di atas monument akan mengaburkan peristiwa sejarah yang sesungguhnya mengenai pengorbanan fisik,materi, dan nyawa para pejuang kemerdekaan.

2. Bahwa lokasi Gasibu tidak memiliki hubungan khusus (historis maupun psikologis) dengan peristiwa musibah wabah COVID-19. Lapangan Gasibu lebih memiliki hubungan dengan peristiwa refocusing anggaran Penanganan COVID-19 yang hingga saat ini masih menyisakan pertanyaan besar mengenai pertanggungjawabannya oleh Gubernur Jawa Barat.

Pengorbanan para Nakes patut dikenang dan diabadikan di lokasi yang selama ini menjadi medan juang para nakes Jawa Barat, yakni di gedung-gedung rumah sakit serta di tempat-tempat pelaksanaan isolasi seperti di kawasan Diklat BPSDM Provinsi Jawa Barat di Cipageran yang menjadi tempat isolasi para penderita COVID-19.

3. Kepedulian yang tulus dari Gubernur terhadap nasib nakes yang berjibaku menolong korban COVID-19 masih dipertanyakan dengan terjadinya keterlambatan pembayaran insentif nakes pada tahun 2020 maupun pada tahun 2021. Dengan demikian peresmian Monumen Perjuangan COVID-19 hanyalah basa-basi tanpa dilandasi pertanggungjawaban moral.

4. Hingga hari ini, perjuangan para nakes mengatasi wabah COVID-19 masih berlangsung dan belum ada pernyataan resmi dari otoritas yang berwenang bahwa wabah covid telah berakhir, maka pendirian monument merupakan tindakan yang terburu-buru, gegabah dan tidak beralasan.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka Peresmian Monumen COVID-19 beralasan untuk ditolak dan meminta Presiden RI Joko Widodo untuk mengabaikan permintaan Gubernur Jabar untuk meresmikan Monumen COVID-19.

Selain menolak gagasan tersebut, Aliansi Nano Jabar menyatakan sikap:

1. Mendesak Gubernur Ridwan Kamil untuk lebih mengutamakan insentif nakes dan kepedulian yang lebih nyata kepada keluarga korban COVID-19 dengan memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu akibat wabah COVID-19,

2. Agar DPRD Provinsi Jabar mengevaluasi penganggaran revitalisasi Kawasan Gasibu dan menelisik kemungkinan adanya duplikasi anggaran dalam proyek tersebut, serta melakukan dengan pendapat publik terhadap pendirian monumen COVID-19 serta mengevaluasi seluruh rangkaian tindakan dan kebijakan gubernur jabar dalam penanganan pandemi covid,

3. Agar DPRD Jabar berkordinasi dengan aparat penegak hukum dan instansi vertikal pemerintahan manakala ditemukan pelanggaran atas kebijakan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

4, Meminta KPK untuk bertindak proaktif menyelidiki kemungkinan terjadinya tindak pidana korupsi dalam kegiatan Rehabilitasi Kawasan Gasibu yang dilanjutkan dengan pembangunan Monumen Perjuangan COVID-19 serta berupaya mencegah terjadinya korupsi sehingga Provinsi Jawa Barat tidak terjerumus lebih jauh dalam prestasi terkorup. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

DPRD Kota Bandung Minta BPBD Diatur Perda

MATAKOTA, Bandung — Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan Bah…